Cari Tahooo!

Copyright © Cari Tahooo!®

Popular Posts

About Us

Cari Tahooo!

Checkout

Instagram Cari Tahooo!


Contact Us

Assalamualaikum. Selamat Datang di blog Cari Tahoo!. Semoga menambah pengetahuan Anda. Terimakasih

Info Section Text

Assalamualaikum. Selamat Datang di blog Cari Tahoo!. Semoga menambah pengetahuan Anda. Terimakasih

Kisah Tabi'in Urwah Bin Zubair     Edit


"Aku ingin menjadi orang yang alim (orang berilmu yang mau beramal), sehingga orang - orang akan belajar dan mengambil ilmu tentang kitab Rabb nya  sunnah nabinya dan hukum agamanya dariku, lalu aku berhasil di akhirat dan memasuki surga dengan ridha Allah. "  Itulah cita - cita Urwah bin Zubair. Siapakah beliau ?

Urwah bin Zubair lahir satu tahun sebelum berakhirnya ke khalifahan al-Faruq dalam sebuah rumah yang paling mulia juga paling baik nasabnya. Ayahnya bernama Zubair bin Awwam, orang pertama yang membela panji Islam juga 10 orang terbaik yang dijanjikan masuk surga. Ibunya adalah dzatun nithaqain, putri tercinta dari sahabat nabi yang paling mulia Abu Bakar ash-Shiddiq yaitu Asma' binti Abu Bakar ash - Shiddiq. 

Nenek dari jalur ayahnya adalah Shafiyah binti Abdul Muthalib yang adalah bibi Rasulullah. Bibinya adalah Ummul Mukminin, Aisyah ra yang bahkan Urwah bin Zubair ikut turun untuk meletakkan jenazah ummul mukminin di peristirahatannya yang terakhir. Maka siapa lagi yang lebih baik nasabnya juga mulia citanya.

Demi meraih citanya, Urwah bin Zubair belajar dari sahabat - sahabat Nabi yang masih ada, shalat di belakang mereka dan mengunjungi rumah mereka. Urwah adalah orang yang sangat dermawan, orang - orang disekitarnya bebas mengambil buah - buahan yang ada di kebunnya. 

Pada suatu hari Khalifah al - Walid bin Abdul Malik mengundang Urwah bin Zubair untuk berziarah ke Damaskus dan mengajak putranya. Saat asyik memilih kuda, putra sulung Urwah disepak keras oleh seekor kuda sehingga meninggal dunia. Belum kering tanah penguburan sang putra, salah satu telapak kaki Urwah terluka diikuti dengan betis yang membengkak. Semua tabib dari seluruh negeri dipanggil oleh Amirul Mukminin untuk dapat mengobati penyakitnya. Tapi, para tabib menyimpulkan bahwa kaki Urwah harus diamputasi sebelum penyakit menyebar ke seluruh tubuh yang dapat berakibat dengan kematian.

Ahli bedah pun bersiap menyayat daging Urwah bin Zubair memakai pisau dan menggergaji tulangnya dan menyarankan Urwah untuk meminum yang memabukkan atau dibius agar tak merasakan sakitnya. Urwah berkata dengan tegas, " Aku tidak mau diambil sebagian dari tubuhku tanpa kurasakan sakitnya agar tidak hilang pahalanya di sisi Allah." 

Mulailah tabib membedah tulang Urwah bin Zubair dan tak pernah berhenti beliau mengucapkan ' Laa ilaaha Illallah, Allahu Akbar.' Setelah diamputasi, tabib memolesi betis Urwah bin Zubair dengan minyak panas yang sebelumnya didihkan agar dapat menghentikan pendarahan. Urwah pun pingsan dan berhenti melafalkan ayat - ayat al - quran yang sudah menjadi kebiasaannya semenjak kecil. 

Ketika Urwah tersadar dari pingsannya,  ia membolak balikan potongan kakinya dan berkata, " Dia ( Allah ) yang membimbing aku untuk membawamu di tengah malam ke masjid, Maha Mengetahui bahwa aku tidak pernah menggunakannya untuk hal - hal yang haram." Lalu membaca syair dari Ma'an bin Aus, " Tak pernah kuingin tanganku menyetuh yang meragukan. Tidak juga kakiku membawaku kepada kejahatan. Telinga dan pandangan matakupun demikian. Tidak pula menuntun ke arahnya pandangan dan pikiran. Aku tahu, tiadalah aku ditimpa musibah dalam kehidupan. Melainkan telah menimpa orang lain sebelumku." 

Ketika Urwah bin Zubair diantar pulang ke Madinah untuk bertemu keluarganya, Urwah berkata sebelum ditanya, " Janganlah kalian risaukan apa yang kalian lihat. Allah telah memberiku empat orang anak dan Dia berkehendak mengambil satu. Maka masih tersisa tiga. Puji syukur bagi Nya. Dia mengambil sedikit dariku dan masih banyak yang ditinggalkan Nya untukku. Bila Dia menguji sekali, kesehatan yang Dia karuniakan masih lebih banyak dan lebih lama darinya. " 

Urwah bin Zubair fokus mendidik murid - muridnya untuk menjadi penerus generasi Islam yang agung. Dalam nasihatnya, " janganlah kalian menghadiahkan kepada Allah dengan apa yang kalian merasa malu menghadiahkannya kepada pemimpin kalian, sebab Allah Maha Mulia, Maha Pemurah dan lebih berhak didahulukan dan diutamakan. " 

Nasihat Urwah bin Zubair yang lainnya, "Jika engkau melihat kebaikan pada seseorang maka akuilah itu baik, walaupun dalam pandangan banyak orang dia adalah orang jahat. Sebab setiap perbuatan baik itu pastilah ada kelanjutannya. Dan jika melihat pada seseorang perbuatan jahat, maka hati - hatilah dalam bersikap walaupun dalam pandangan orang - orang dia adalah orang baik. Sebab setiap perbuatan jahat ada kesinambungannya. Jadi camkanlah, kebaikan akan melahirkan kebaikan setelahnya dan kejahatan menyebabkan timbulnya kejahatan berikutnya."

Saat ajal Urwah bin Zubair mulai mendekat, beliau dalam keadaan shaum sunnah, ibadah  yang sudah menjadi kebiasaannya sejak muda. Keluarganya membujuknya untuk membatalkan puasa tetapi beliau menolak karena ingin berbuka disisi Allah dan berbuka dengan minuman dari telaga kautsar yang dituangkan dengan gelas perak oleh bidadari cantik surga. Urwah bin Zubair meninggal pada usia 71 tahun dan disepanjang hidupnya menggoreskan tinta ketaata.[] Zen

Sumber: WA Muslim AHM
( Referensi dari : Mereka Adalah Para Tabi'in - DR Abdurrahman Ra'fat Basya ).

Kisah Tabi'in Urwah Bin Zubair



"Aku ingin menjadi orang yang alim (orang berilmu yang mau beramal), sehingga orang - orang akan belajar dan mengambil ilmu tentang kitab Rabb nya  sunnah nabinya dan hukum agamanya dariku, lalu aku berhasil di akhirat dan memasuki surga dengan ridha Allah. "  Itulah cita - cita Urwah bin Zubair. Siapakah beliau ?

Urwah bin Zubair lahir satu tahun sebelum berakhirnya ke khalifahan al-Faruq dalam sebuah rumah yang paling mulia juga paling baik nasabnya. Ayahnya bernama Zubair bin Awwam, orang pertama yang membela panji Islam juga 10 orang terbaik yang dijanjikan masuk surga. Ibunya adalah dzatun nithaqain, putri tercinta dari sahabat nabi yang paling mulia Abu Bakar ash-Shiddiq yaitu Asma' binti Abu Bakar ash - Shiddiq. 

Nenek dari jalur ayahnya adalah Shafiyah binti Abdul Muthalib yang adalah bibi Rasulullah. Bibinya adalah Ummul Mukminin, Aisyah ra yang bahkan Urwah bin Zubair ikut turun untuk meletakkan jenazah ummul mukminin di peristirahatannya yang terakhir. Maka siapa lagi yang lebih baik nasabnya juga mulia citanya.

Demi meraih citanya, Urwah bin Zubair belajar dari sahabat - sahabat Nabi yang masih ada, shalat di belakang mereka dan mengunjungi rumah mereka. Urwah adalah orang yang sangat dermawan, orang - orang disekitarnya bebas mengambil buah - buahan yang ada di kebunnya. 

Pada suatu hari Khalifah al - Walid bin Abdul Malik mengundang Urwah bin Zubair untuk berziarah ke Damaskus dan mengajak putranya. Saat asyik memilih kuda, putra sulung Urwah disepak keras oleh seekor kuda sehingga meninggal dunia. Belum kering tanah penguburan sang putra, salah satu telapak kaki Urwah terluka diikuti dengan betis yang membengkak. Semua tabib dari seluruh negeri dipanggil oleh Amirul Mukminin untuk dapat mengobati penyakitnya. Tapi, para tabib menyimpulkan bahwa kaki Urwah harus diamputasi sebelum penyakit menyebar ke seluruh tubuh yang dapat berakibat dengan kematian.

Ahli bedah pun bersiap menyayat daging Urwah bin Zubair memakai pisau dan menggergaji tulangnya dan menyarankan Urwah untuk meminum yang memabukkan atau dibius agar tak merasakan sakitnya. Urwah berkata dengan tegas, " Aku tidak mau diambil sebagian dari tubuhku tanpa kurasakan sakitnya agar tidak hilang pahalanya di sisi Allah." 

Mulailah tabib membedah tulang Urwah bin Zubair dan tak pernah berhenti beliau mengucapkan ' Laa ilaaha Illallah, Allahu Akbar.' Setelah diamputasi, tabib memolesi betis Urwah bin Zubair dengan minyak panas yang sebelumnya didihkan agar dapat menghentikan pendarahan. Urwah pun pingsan dan berhenti melafalkan ayat - ayat al - quran yang sudah menjadi kebiasaannya semenjak kecil. 

Ketika Urwah tersadar dari pingsannya,  ia membolak balikan potongan kakinya dan berkata, " Dia ( Allah ) yang membimbing aku untuk membawamu di tengah malam ke masjid, Maha Mengetahui bahwa aku tidak pernah menggunakannya untuk hal - hal yang haram." Lalu membaca syair dari Ma'an bin Aus, " Tak pernah kuingin tanganku menyetuh yang meragukan. Tidak juga kakiku membawaku kepada kejahatan. Telinga dan pandangan matakupun demikian. Tidak pula menuntun ke arahnya pandangan dan pikiran. Aku tahu, tiadalah aku ditimpa musibah dalam kehidupan. Melainkan telah menimpa orang lain sebelumku." 

Ketika Urwah bin Zubair diantar pulang ke Madinah untuk bertemu keluarganya, Urwah berkata sebelum ditanya, " Janganlah kalian risaukan apa yang kalian lihat. Allah telah memberiku empat orang anak dan Dia berkehendak mengambil satu. Maka masih tersisa tiga. Puji syukur bagi Nya. Dia mengambil sedikit dariku dan masih banyak yang ditinggalkan Nya untukku. Bila Dia menguji sekali, kesehatan yang Dia karuniakan masih lebih banyak dan lebih lama darinya. " 

Urwah bin Zubair fokus mendidik murid - muridnya untuk menjadi penerus generasi Islam yang agung. Dalam nasihatnya, " janganlah kalian menghadiahkan kepada Allah dengan apa yang kalian merasa malu menghadiahkannya kepada pemimpin kalian, sebab Allah Maha Mulia, Maha Pemurah dan lebih berhak didahulukan dan diutamakan. " 

Nasihat Urwah bin Zubair yang lainnya, "Jika engkau melihat kebaikan pada seseorang maka akuilah itu baik, walaupun dalam pandangan banyak orang dia adalah orang jahat. Sebab setiap perbuatan baik itu pastilah ada kelanjutannya. Dan jika melihat pada seseorang perbuatan jahat, maka hati - hatilah dalam bersikap walaupun dalam pandangan orang - orang dia adalah orang baik. Sebab setiap perbuatan jahat ada kesinambungannya. Jadi camkanlah, kebaikan akan melahirkan kebaikan setelahnya dan kejahatan menyebabkan timbulnya kejahatan berikutnya."

Saat ajal Urwah bin Zubair mulai mendekat, beliau dalam keadaan shaum sunnah, ibadah  yang sudah menjadi kebiasaannya sejak muda. Keluarganya membujuknya untuk membatalkan puasa tetapi beliau menolak karena ingin berbuka disisi Allah dan berbuka dengan minuman dari telaga kautsar yang dituangkan dengan gelas perak oleh bidadari cantik surga. Urwah bin Zubair meninggal pada usia 71 tahun dan disepanjang hidupnya menggoreskan tinta ketaata.[] Zen

Sumber: WA Muslim AHM
( Referensi dari : Mereka Adalah Para Tabi'in - DR Abdurrahman Ra'fat Basya ).

No komentar yet. Add your komentar now!

Post a Comment


 


Order mudah! via WhatsApp.

Instant Checkout dengan Contact Form WhatsApp.

Online 1x24 Jam!

Apapun pesananmu, CS (Customer Service) kami akan dengan senang hati untuk melayani.. :)

Kualitas Terbaik!

Kami memastikan, produk yang kami kirim sesuai dengan Ekspektasi pembeli.
1 Butuh bantuan?

×



×

Kisah Tabi'in Urwah Bin Zubair


*Sub-Total :
*%20

* Belum termasuk Ongkos kirim



Kirim